Rumah Pengasingan Bung Hatta di Banda Naira: Jejak Sejarah di Pulau Rempah
Sunday, March 30, 2025Banda Naira, pulau kecil di Kepulauan Banda, bukan hanya surga bagi pecinta alam, tapi juga bagi para penyuka sejarah. Selain terkenal sebagai pusat rempah-rempah dunia, pulau ini juga menjadi saksi bisu perjuangan kemerdekaan Indonesia. Salah satu jejak sejarah yang masih bisa kita temui adalah Rumah Pengasingan Bung Hatta, tempat di mana Mohammad Hatta diasingkan oleh pemerintah kolonial Belanda.
Dan sebagai travel blogger yang juga menyukai sejarah, aku tentu tak ingin melewatkan kesempatan mengunjungi tempat ini. Melangkah ke dalam rumah tua yang sederhana itu, aku seperti dibawa kembali ke masa lalu, ke tahun-tahun ketika Bung Hatta menghabiskan hari-harinya di pengasingan.
Menjejak Rumah Bung Hatta di Banda Naira
Tampak depan rumah Bung Hatta
Begitu sampai di depan rumah ini, aku langsung merasakan aura klasiknya. Bangunan tua berwarna putih dengan desain sederhana ini masih berdiri kokoh, meski usianya hampir seabad. Rumah ini menjadi tempat Bung Hatta menjalani pengasingan sejak tahun 1936 hingga 1942.
Pemerintah kolonial Belanda menganggap mereka sebagai ancaman karena aktivitas politik mereka yang gigih memperjuangkan kemerdekaan Indonesia. Maka, mereka dibuang jauh ke pulau terpencil ini agar terputus dari pusat pergerakan di Pulau Jawa.
Namun, ironisnya, justru di tempat ‘terpencil’ inilah Bung Hatta tetap aktif berpikir, menulis, dan mendidik generasi muda Banda.
Ruang kerja Bung Hatta, penuh buku
Tempat duduk di ruang tengah
Masuk ke dalam rumah, aku melihat meja kayu tua, beberapa rak buku. Aku membayangkan bagaimana beliau duduk di meja itu, menulis surat atau membaca buku di malam hari, ditemani suara deburan ombak dari kejauhan.
Meja tulis lengkap dengan mesin ketik
Masuk ke dalam kamar tidur beliau ada sebuah lemari plastik tempat pakaian dan sebuah ranjang besi sederhana. Semua benda ini menjadi saksi bisu bagaimana Bung Hatta menghabiskan waktunya. Ada juga foto-foto dokumentasi yang menggambarkan kehidupan beliau selama di Banda.
Tempat tidur Bung Hatta
Lemari pakaian sederhana
“Tak ada yang berubah. Semua masih berada di tempatnya. Seperti sewaktu dulu beliau masih ada di sini”, ucap Mama Emi yang menemani aku berkeliling melihat-lihat rumah bekas tempat Bung Hatta diasingkan ini.
Masih ada setrika arang di rak pakaian Bung Hatta
Bung Hatta dan ‘Sekolah’ di Banda
Salah satu hal paling mengesankan dari masa pengasingan Bung Hatta adalah dedikasinya dalam mendidik anak-anak Banda. Ia tak hanya berdiam diri dalam keterasingan, tetapi justru memanfaatkan waktunya untuk membangun pendidikan.
Kelas tempat Bung Hatta mengajar pemuda2 Banda
Di rumah ini, Bung Hatta membuka kelas kecil dan mengajarkan berbagai mata pelajaran, mulai dari bahasa Belanda, sejarah, ekonomi, hingga ilmu politik. Murid-muridnya, yang kebanyakan adalah anak-anak lokal, mendapat pendidikan yang mungkin tak akan mereka dapatkan jika tidak ada Bung Hatta di sini.
Salah satu murid Bung Hatta yang paling terkenal adalah Des Alwi, yang kelak menjadi sejarawan dan berperan penting dalam mendokumentasikan sejarah Banda. Baginya, Bung Hatta bukan hanya seorang pemimpin, tetapi juga seorang guru yang penuh kesabaran dan dedikasi.
Banda Naira, Pengasingan yang Justru Membebaskan
Berada di rumah ini membuatku berpikir, mungkin bagi Bung Hatta, Banda Naira bukan sekadar tempat pembuangan. Justru di sinilah beliau punya waktu untuk berpikir, menulis, dan mengasah visi tentang Indonesia merdeka.
Lemari penuh buku
Di setiap sudut rumah Bung Hatta ini pasti ada buku. Pemandangan ini mengingatkanku pada kata-kata Bung Hatta yang terkenal:
"Aku rela diasingkan, asalkan tetap bersama buku-buku, karena dengan buku aku bebas."
Mungkin bagi kita, pengasingan terdengar seperti hukuman. Tapi bagi Bung Hatta, tempat ini adalah kesempatan untuk semakin memperkaya pemikirannya. Sejarah mencatat bahwa setelah masa pengasingannya berakhir, beliau menjadi salah satu arsitek utama kemerdekaan Indonesia.
Sumur dan dapur
Secangkir Kopi dan Renungan di Banda
Malam harinya, aku duduk di teras penginapan Bintang Laut Guesthouse sambil menikmati secangkir kopi pala khas Banda. Kopi ini unik karena dicampur dengan sedikit rempah, memberikan aroma yang kuat dan rasa yang khas. Sambil menyeruput kopi hangat, aku kembali merenungkan perjalanan Bung Hatta di tempat ini.
Bagaimana rasanya hidup dalam pengasingan? Terpisah dari keluarga, berada di tempat asing, dan tahu bahwa kebebasanmu dirampas? Tapi Bung Hatta memilih untuk tetap berjuang, meskipun dengan cara yang berbeda.
Di rumah kecilnya, ia membaca, menulis, dan mendidik. Tidak ada senjata, tidak ada perang fisik. Hanya pemikiran yang kelak menjadi bagian dari fondasi Indonesia merdeka.
Banda Naira: Perjalanan yang Menghidupkan Sejarah
Bersama Mama Emi, yang menjaga rumah Bung Hatta
Banda Naira memang jauh, tapi tempat ini menyimpan kisah besar yang wajib kita kenang. Mungkin kita tidak bisa kembali ke masa lalu, tetapi kita bisa belajar dari jejak-jejak sejarah yang ditinggalkan di sini.
Jadi, kalau suatu hari kamu berkesempatan ke Banda Naira, jangan hanya menikmati keindahan alamnya. Berjalanlah ke rumah Bung Hatta, duduklah di terasnya, dan rasakan sendiri bagaimana sejarah masih berbisik di antara dinding-dinding tua itu.
Sore hari, biasanya Bung Hatta duduk2 di teras belakang ini
Siapa tahu, di tempat ini, kamu juga bisa menemukan inspirasi besar, seperti yang pernah ditemukan Bung Hatta, di tengah pengasingannya.
0 komentar